Rabu, 17 November 2010

JANGAN KUATIR

Filipi 4 : 6
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
Rasa pahit itu memang tidak enak untuk ditelan dan dikecap. Masalah, pergumulan hidup juga memang tidak enak untuk dirasakan dan dilalui. Tapi semua itu tidak pernah untuk tidak kita rasakan dan alami. Pernahkan kita sadari bahwa kalau tidak ada rasa pahit itu, kalau kita tidak pernah mengecap rasa pahit itu, kita tidak akan pernah menyadari bahwa ada rasa yang manis yang pernah kita kecap dan rasakan. Kalau kita tidak pernah mengalami masalah atau pergumulan, kita akan menjadi sombong karena merasa semua itu adalah hasil dari kekuatan kita. Dan kita tidak akan pernah menyadari akan kebaikan Tuhan dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita.
1 Korintus 10 : 13 berkata: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar sehingga kamu dapat menanggungnya.” Seringkali waktu kita masuk dalam masa pergumulan, yang kita pikirkan adalah masalahnya, mengapa dan mengapa. Memang betul kita harus berusaha, tapi yang Tuhan inginkan adalah waktu kita berusaha, andalkanlah Tuhan.
Filipi 4 6: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
1 Tesalonika 5 : 16-18 : “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal. Sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
Hari-hari ini memang hari-hari yang sulit, keadaan dimanapun menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami masa yang sukar, tetapi Firman Tuhan katakan untuk menang dalam masa-masa pergumulan hari-hari ini dan untuk keluar sebagai pemenang, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.
Pertama, Jagalah hati kita. Hati kita harus penuh dengan sukacita, karena hati yang gembira adalah obat yang manjur. Waktu hati kita penuh dengan sukacita, maka kita dapat menjadi tenang untuk dapat berdoa.
Kedua, Tetaplah berdoa. Semua usaha kita akan sia-sia kalau hanya mengandalkan kekuatan kita. Tetapi, kalau semua yang kita upayakan adalah atas seijinnya Tuhan, maka semuanya akan menjadi berhasil dan pasti ada jalan keluar.
Ketiga, Mengucap syukurlah dalam segala hal. Percayalah!!! Bahwa ada kuasa dibalik pengucapan syukur. Memang tidak mudah untuk dapat mengucap syukur waktu kita mengalami masa yang sukar, mungkin kita berkata pergumulan saya sangatlah berat, pergumulan ini sudah sangat lama saya lalui. Semua orang pernah mengalami hal seperti ini, demikian juga saya. Tapi ketahuilah, bahwa mengucap syukur itu adalah korban yang terbaik yang kita berikan kepada Tuhan di saat kita mengalami pergumulan dan itu akan menjadi dupa yang harum di hadapan Tuhan dan akan menggetarkan hati Tuhan.
Waktu kita belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal, maka kita akan dapat berserah total kepada Tuhan, dan mengandalkan Tuhan. Untuk dapat mengandalkan Tuhan, perlu adanya penyerahan diri kepada Tuhan. Maka pertolongan Tuhan itu akan datang tepat pada waktuNya, tidak pernah terlambat. Semua itu mudah bagi Tuhan untuk menolong kita, hanya seperti membalikkan telapak tangan saja bagi Tuhan. Dan, waktu kita mengalami pertolongan Tuhan, mengalami mujizat dan keluar menjadi pemenang, justru itulah yang akan menyatakan kemuliaan Tuhan dan hidup dan pengalaman kita itu yang akan menjadi kesaksian bagi banyak orang dan memberkati orang lain.
Tuhan Yesus memberkati.(FD).

Minggu, 07 November 2010

Janganlah kamu mengasihi dunia

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
1 Yoh 2 : 5
Banyak orang Kristen yg setuju bahwa cara hidup dunia telah memasuki Gereja .
Seringkali tanpa disadari bahwa nilai – nilai duniawi telah merasuki kehidupan banyak anak – anak Tuhan sehingga dengan cepat membuat kehidupan mereka menjadi goyah dan akhirnya mereka jatuh terperosok ke lubang kehancuran yang sangat dalam.
Mari kita lihat diri kita masing2x apakah kita sudah mengasihi dunia ini lebih dari pada mengasihi Tuhan ? kita bisa disebut telah mengasihi dunia ini bila :
-   Demi keuntungan dan kesenangan , kita dengan rela dan sengaja melakukan yang jahat atau melanggar perintah Allah.
-  Kita bekerja lebih giat lagi untuk mendapatkan kemewahan dalam hidup ini bukannya untuk Kerajaan Allah.
-   Kita tidak puas ataupun tidak sabar bila mengalami keadaan yang sulit , khususnya dalam segi keuangan.
-  Tidak dapat membagi milik kita dengan mereka yang membutuhkan , yang pantas mendapatkan dan yang mempunyai hak untuk itu.
-   Kita iri terhadap kekayaan orang lain didunia ini.
- Memperhatikan dan lebih menghargai orang – orang tertentu hanya karena keuangan mereka kuat dan sebaliknya kurang menyukai orang – orang lain hanya karena kurang terpandang di mata masyarakat.
- Kemakmuran dunia membuat kita menjadi sombong , suka pamer dan merasa superior.
Ketika seseorang mengasihi dunia maka kasih Bapa tidak ada pada dia , jika dia tidak memiliki kasih Bapa maka tidak mungkin ia menjadi pelaku Firman Tuhan yang setia.
1 Yoh  5 : 3
Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.
Jadi bukti seseorang mengasihi Allah adalah mau melakukan perintahNya , melakukan FirmanNya.
Mengapa seseorang merasa berat melakukan perintahNya ? karena hatinya bercabang yaitu mau mengasihi Allah tetapi mengasihi dunia juga.
Saat ini Tuhan memerintahkan kita untuk hidup menjadi saksi Kristus dan memberitakan kabar baik , karena ada jutaan jiwa dibangsa ini maupun di bangsa – bangsa yang belum pernah mengalami kasih Allah.
Tapi bagaimana seseorang dapat menjadi saksi Kristus kalau dia tidak menjadi pelaku Firman Tuhan karena hatinya mengasihi dunia dan seseorang yang hatinya mengasihi dunia tidak mungkin mempunyai semangat yang murni untuk memberitakan kabar baik agar orang lain mengalami kasih Allah dan diselamatkan.
Bagaimana agar hati kita tidak mengasihi dunia melainkan dipenuhi kasih kepada Allah ??
1. Kita harus ingat akan pengorbanan Yesus di kayu salib dan anugerahNya atas kita.
Seharusnya kita sudah binasa karena dosa , tapi Yesus datang kedunia ini untuk menebus kita dari dosa dengan jalan naik lalu mati tergantung di kayu salib lalu oleh anugerahNya kita diampuni dan diselamatkan ( Rm 3 : 23 , Yoh 3 : 16 , Rm 10 : 9 )Ingat – ingat kebaikan Tuhan atas hidup kita.
2. Sangkal diri , pikul salib dan bangun terus hubungan yang intim dengan Tuhan ( Luk 9 : 23 )
Kita harus menyadari bahwa sejak menerima keselamatan dari Tuhan maka status kita berbeda , bukan lagi anak – anak dunia yang hidupnya dikuasai hawa nafsu dunia melainkan anak – anak terang , warga Kerajaan Sorga maka gaya hidup kita harus juga berbeda yaitu dengan menyalibkan hawa nafsu duniawai serta terus menjaga keintiman dengan Tuhan sehingga dipenuhi oleh kasih Allah.
Ketika hati kita dipenuhi kasih kepada Allah maka kita akan menjadi seorang pelaku Firman Tuhan yang taat sehingga kemuliaan Tuhan memenuhi hidup kita , perubahan demi perubahan kearah yang jauh lebih baik terjadi dan hidup kita sebagai saksi Kristus akan semakin terpancar serta bisa dilihat oleh semua orang , maka ketika kita beritakan kabar baik saya yakin akan banyak orang yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat dunia . Halleluyah !!

Sabtu, 06 November 2010

PRAY FOR INDONESIA!

Pada hari Selasa (26/10/2010) pukul 17.02, Gunung Merapi meletus. Dan pada hari Rabu (3/11/2010) kemarin sekitar pukul 08.20 pagi, Gunung Merapi kembali meletus. Pantauan dari barak pengungsian letusan Merapi di Purwobimangun, Pakem, Sleman, DI Yogyakarta, gumpalan awan membubung cukup tinggi. Gumpalan berwarna hitam itu terlihat sekitar 10 menit, lalu menghilang tertiup angin.
Sebelum letusan Merapi yang pertama, pada hari Senin (25/10/2010), Mentawai diguncang gempa berkekuatan 7,2 skala Richter (SR) pada pukul 21.42 WIB, terjadi di 3,61 Lintang Selatan dan 99.93 Bujur Timur. Pusat gempa tersebut berada pada 78 kilometer (km) Barat Kecamatan Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai dengan kedalaman  10 km. Selang beberapa waktu kemudian gempa susulan dengan kekuatan 5,5 SR. Gempa ketiga yang mengguncang Mentawai terjadi sekitar pukul 22.31 WIB, dengan kekuatan 5,0 SR. Korban meninggal akibat gempa disertai tsunami di Mentawai mencapai ratusan jiwa, sementara korban yang hilang juga mencapai ratusan orang.
Dalam 2 Timotius 3:1 tertulis dengan jelas, “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” Kondisi bumi yang kita tinggali tidak semakin baik akibat adanya pemanasan global atau “Global Warming” yang mengakibatkan perubahan iklim sangat ekstrim. Garis batas musim panas dan musim hujan di Indonesia saja sudah tidak jelas lagi. Dan sepertinya bencana-bencana yang sudah terjadi, tidak akan berhenti sampai di sini. Ada begitu banyak prediksi para ahli yang menyatakan adanya pergerakan lempeng-lempeng bumi, yang artinya akan memunculkan bencana-bencana alam berikutnya.
Melihat kenyataan yang sedang terjadi saat-saat ini, sebagai umat Tuhan, marilah kita bergandeng tangan untuk berdoa demi kesejahteraan bangsa dan negara dimana TUHAN telah tempatkan kita. Seruan “pray for Indonesia” bukanlah slogan sambil lalu, melainkan harus kita lakukan secara sepakat/bersama-sama.
Mari berdoa untuk Indonesia, hari ini juga!

IMAN YANG BENAR

Kalau kita ditanya apa itu iman, mungkin dengan hapal kita akan mengutip Ibrani 11:1, Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Pertanyaannya, apakah “segala sesuatu yang kita harapkan” itu? Apa berarti kita bisa berharap, kita ingin sesuatu, lalu beriman, dan kita akan mendapatkannya?
Jika benar begitu, mengapa banyak orang tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan? Kenapa banyak orang yang kecewa karena mereka tidak mendapat apa yang mereka imani?
Berarti, harus ada sesuatu yang lebih dari itu.
Jika mau jujur, apa yang kita sebut iman selama ini sebenarnya adalah keinginan pribadi kita, kemudian kita berharap Tuhan setuju dengan permintaan tersebut. Lalu kalau kita tidak mendapatkannya, kita mulai beralasan “Bukan kehendak Tuhan...”
Sesungguhnya, apakah iman yang dimaksud Alkitab?
Mendengar Lalu Beriman
Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:17)
Ayat di atas dengan jelas menyatakan bahwa iman lahir karena Tuhan mengatakan sesuatu kepada kita. Dari apa yang Tuhan katakan maka kita punya iman. Jadi iman sesungguhnya bukan tentang apa yang kita inginkan. Tapi tentang apa yang Tuhan katakan kepada kita.
Iman bukan mempercayai apa yang ingin kita percayai, tetapi iman adalah mempercayai apa yang Tuhan katakan. Inilah dasar dari iman.
Bagaimana Caranya Mendengar?
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita bisa mendengar apa yang Tuhan katakan? Di sinilah kita butuh kepekaan.
Tuhan berbicara lewat banyak cara (Ayub 33:14). Lewat Alkitab, hamba-Nya, teman-teman, situasi, dll. Masalahnya, bisakah kita mendengarnya?
Di sinilah pentingnya kita memiliki waktu untuk bersaat teduh. Di dalam saat teduhlah kita belajar bukan hanya berkata-kata kepada Dia, tetapi juga mendengarkan Dia. Dalam saat teduh kita belajar mengenali suara-Nya.
Iman dan Perbuatan
Kalau kita sudah punya iman yang seperti ini, barulah kita dapat melakukan tindakan iman seperti yang ditulis dalam Kitab Yakobus (Yakobus 2:14-26).
Tindakan iman adalah bukti bahwa kita percaya pada apa yang Tuhan katakan kepada kita.
Sumber: Denny Pranolo/hmministry

Rabu, 03 November 2010

HAL KECIL VS HAL BESAR

"Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal, menyukat debu tanah dengan takaran, menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca? Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?" (Yesaya 40:12-13).

Ayat di atas menuliskan tentang lima kegiatan:
  1. Menakar air laut dengan lekuk tangan
  2. Mengukur langit dengan jengkal
  3. Menyukat debu tanah dengan takaran
  4. Menimbang gunung-gunung dengan dacing
  5. Menimbang bukit-bukit dengan neraca
  6. Mengatur Roh Tuhan atau memberi petunjuk kepada-NYA
Yang artinya adalah bahwa sebagai manusia kita tidak mungkin mampu melakukan hal-hal besar, yang hanya sanggup dilakukan/ditangani oleh TUHAN. Dan seperti yang tertulis dalam Roma 12:16, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang TINGGI, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang SEDERHANA. Janganlah menganggap dirimu pandai!", janganlah kita mengganggap diri pandai, dan merasa sanggup memikirkan hal-hal yang TINGGI/BESAR (yang hanya sanggup dilakukan oleh TUHAN/bagian TUHAN).
Melainkan, baklah kita menyelesaikan lebih dulu apa yang menjadi bagian kita. Yaitu hal-hal KECIL/SEDERHANA yang merupakan tugas dan tanggung jawab kita, dimanapun Tuhan tempatkan. Entahkah itu dalam rumah tangga, keluarga kita, studi, pekerjaan, pelayanan atau dimanapun. Lakukanlah dengan segenap hati untuk menghasilkan yang terbaik dan menjadi berkat bagi sekeliling kita.
Setelah kita menyelesaikan bagian kita, maka TUHAN sendiri yang
akan membawa dan memercayakan kita hal-hal yang lebih besar.
Selamat melakukan bagian kita dengan baik dan benar, sesuai tuntunan TUHAN!
Sumber: nkt/hmministry

Selasa, 02 November 2010

SALAH PRIORITAS MENGAKIBATKAN KEKUATIRAN

“Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."
(Lukas 10:41-42).

Mari kita berandai-andai sejenak…
Pernahkah anda membayangkan apa yang akan anda lakukan seandainya jika ada seorang hamba Tuhan yang sangat diurapi, sehingga setiap kali KKR yang diadakan senantiasa dihadiri oleh puluhan ribu orang serta banyak mujizat terjadi, dan hamba Tuhan tersebut datang kepada anda dan berkata : “Saya ingin datang ke Rumah anda, karena ada pesan Tuhan yang sangat penting yang ingin Tuhan sampaikan kepada anda dan keluarga, tapi saya tidak punya banyak waktu…sebab 30 menit lagi saya harus pergi untuk pelayanan ke tempat lain..”
Apa yang akan anda lakukan?
Apakah anda akan menghabiskan yang 30 menit tersebut untuk sekedar sibuk mempersiapkan hidangan yang istimewa, sehingga akhirnya waktu anda hanya habis terbuang untuk mempersiapkan hidangan tersebut dan anda kurang cukup waktu untuk mendengarkan pesan Tuhan yang ingin disampaikan oleh sang hamba Tuhan?
Atau anda menggunakan kesempatan ‘emas’ tersebut dengan duduk dan mendengarkan pesan Tuhan yang ingin disampaikan?
Secara nyata, peristiwa diatas pernah terjadi dan dicatat dalam Injil Lukas 10:38-42. Dimana suatu kali ketika Tuhan Yesus tiba di sebuah kampung, Tuhan Yesus memberi waktu/kesempatan kepada satu keluarga disana untuk datang dan memberikan firman kebenaran secara khusus bagi keluarga kakak-beradik bernama Maria dan Marta.
Saya percaya itu adalah sebuah kesempatan ‘emas’ yang sangat luar biasa bagi keluarga tersebut. Mengapa? Karena setiap kali Tuhan Yesus mampir ke rumah seseorang, selalu ada maksud dan tujuan yang istimewa, bukan sekedar ‘iseng-iseng’ atau ‘numpang istirahat’. Contohnya ketika Tuhan Yesus datang ke rumah ibu mertua Petrus, ada kesembuhan terjadi di sana. Saat Tuhan Yesus mampir ke rumah Zakeus, ada keselamatan dan pemulihan terjadi di sana.
Kali ini, Tuhan Yesus menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Maria dan Marta, tapi coba kita lihat bagaimana respon Maria dan Marta?
Maria, ketika Tuhan datang ke rumahnya, dia langsung duduk dekat kaki Tuhan Yesus dan mulai mendengarkan setiap perkataan Tuhan. Maria tahu ini adalah kesempatan ‘emas’ yang tidak boleh disia-siakan begitu saja, dalam hatinya mungkin dia berpikir kapan lagi Tuhan Yesus datang ke rumahnya.
Rupanya apa yang Maria lakukan adalah langkah yang tepat, bahkan Tuhan Yesus memuji apa yang maria lakukan yaitu mengambil bagian yang terbaik, duduk dekat kaki Tuhan Yesus dan mendengarkan setiap perkataan-Nya dan menjadikan hal tersebut sebagai prioritas dalam hidupnya.
Sebaliknya, Marta langsung melayani, dia menyibukkan dirinya dengan mempersiapkan hidangan yang terbaik untuk Tuhan Yesus. Alkitab memang tidak mencatat hidangan apa yang Marta siapkan atau berapa jenis menu yang akan dia sajikan untuk Tuhan Yesus, teapi yang jelas marta menjadi begitu sibuknya sehingga dia melewatkan kesempatan untuk mendengarkan pengajaran / kebenaran yang Tuhan Yesus sampaikan. Dalam hatinya mungkin Marta berpikir pasti Tuhan Yesus lelah dan lapar. Tapi apa yang terjadi, Marta salah dalam menentukan prioritas  dan ditengah kesibukkannya Marta menjadi kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara.
Dari peristiwa ini ada satu pelajaran yang dapat kita ambil yakni SALAH DALAM MENENTUKAN PRIORITAS HIDUP DAPAT MENGAKIBATKAN KEKUATIRAN DALAM HIDUP ANDA!
Coba kita lihat kehidupan kita, apakah hari-hari terakhir ini hidup kita senantiasa diliputi oleh kekuatiran? Kuatir akan masa depan, kuatir akan penghidupan,  kuatir akan keselamatan, kuatir akan jodoh, kuatir akan pekerjaan/karier?
Kalau demikian adanya, coba evaluasi ulang…apa yang menjadi prioritas utama dalam hidup anda? Adakah keintiman dengan Tuhan Yesus menjadi prioritas yang utama? Atau justru hanya bisnis/karier/kebutuhan/masa depan/penghidupan yang terus menerus anda pikirkan?
Ayo kembali tempatkan keintiman dengan Tuhan Yesus sebagai prioritas yang utama dalam hidup kita, dan semuanya itu diawali dengan saat teduh dengan Tuhan di pagi hari. Sebelum kita melakukan aktivitas sehari-hari cari wajah-Nya, berdoa, memuji, menyembah Tuhan serta merenungkan Firman Tuhan serta milikilah gaya hidup seorang pemuji dan penyembah.
Sebuah langkah yang mudah yang akan membuat anda terhindar dari kekuatiran dalam hidup! Selamat menikmati berkat TUHAN sepanjang tahun Ayin Aleph (5771).(dony)